Cerita Tukang Sol Sepatu

        Teman-teman, ada cerita yang cukup menarik yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saya mempunyai sepatu sandal yang masih bagus namun ada satu sisi yang lemnya lepas sehingga tidak bisa dipakai lagi. Daripada membeli sepatu sandal yang baru jauh ke Pekanbaru, dan masih harus juga mencari tok dan milih2 lagi, saya putuskan untuk membawa ke tukang sol di pasar Duri, walaupun saya sudah mempunyai gantinya. Tapi kayaknya saya sudah terlanjur cinta dengan sepatu sandal yang lama tersebut. Rasanya lebih nyaman dan enak saja kalau dipakai.

        setelah sampai di pasar dan tanya beberpa orang, ketemulah si tukang sol sepatu. Sebelum menyerahkan sepatu, saya tanya dulu berapa harganya. Tujuannya untuk mendapatkan persetujuan. Terus terang, karena di sini saya masih baru (sekitar 6 bulan), jadi saya harus belajar mengetahui juga tipe masyarakat yang ada. Jangan sampai setelah nanti sepatu sandal jadi ternyata dia minta bayaran yang tinggi.

        Nah, ada sesuatu yang menarik dari Tukang Sol sepatu ini. Saat saya mendatanginya, tampak ia menempatkan tempat sol di sebelah seorang ibu yang menggendong anak. Ibu ini jualan keperluan sederhana sehari-hari namun tidak banyak karena berjualan di depan toko (di trotoar). Ada rokok, korek, cotton bud, sisir, bedak bayi, sampai lakban (sejenis isolasi besar) coklat. Saat saya baru datang, dipersilahkan saya untuk duduk. Si ibu menyerahkan kursi di sebelahnya kepada saya. Saya pikir baik sekali ibu ini, dia membantu penjual di sebelahnya, si tukang sol sepatu.

        Obrolan pun dimulai sambil saya melihat pekerjaannya. Hingga saat saya melihat dia begitu cekatan menjahit sepatu sandal saya, saya pun bertanya padanya kenapa tidak penjadi penjahit saja (maksud saya usaha penjahitan sendiri). Dia pun menjawab: "Saya pernah jadi penjahit bang, tapi ngikut orang tidak enak. Kerja harus teratur dari pagi sampai sore. Sehari paling dapat 30 ribu. Saya di sini sehari bisa dapat 50 ribu. Kalau jelek ya sekitar 40ribu, malah kalau hari baik bisa sampai 70 ribu". "Wah lumayan juga ya bang?" sahut saya. Kemudian obrolan terhenti, saat ada pembeli yang menanyakan harga lakban, tapi kok tukang sol ini yang menjawab dan menerima pembayaran….

Kemudian saya tanya, "Yang sebelah istri dan anak ya?". "Iya bang" sahut dia. "Wah… makin mantap aja abang ini, sudah dapat hasil yang lebih baik daripada kerja sendiri, malah bisa kerja didampingi istri dan anak".

        Saya pun melanjutkan pembicaraan. Yang intinya, ternyata dia orang bengkulu. Sebelumnya saya pikir dia orang padang. Karena di daerah Duri masyarakat minang termasuk yang dominan, disamping penduduk asli melayu. Apalagi orang padang (minang) terkenal karena keuletan usahanya. Propinsi Sumatra barat juga bersebelahan dengan Riau. Umumnya kalau dari Bengkulu merantau ke Palembang karena lebih dekat dan juga kota besar. Wah… salah duga lagi saya…

        Akhirnya pekerjaan sol pun selesai. Saya pun membayar ongosnya. Pengin tahu berapa? 5 ribu. Jadi silahkan hitung berapa kira2 pelanggannya sehari.

Mudah-mudahan kita juga bisa berhitung: Jika kita inginkan pendapatan tertentu, kira2 dengan modal berapa dan usaha apa ya?…..

Hikmah:

  • Jika usaha kita tekuni, insya Allah dapat memenuhi kebutuhan kita.
  • Jangan remehkan orang-orang sekitar kita, kita dapat belajar darinya
  • "man yattaqillaha yaj'allahu makhroja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib" (Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka diberikannya jalan keluar dan dilimpahkan rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka- AL Quran)