Temans...
ternyata yang namanya konsistensi itu susah ya.......
Susah berarti tidak bisa lho ya. masih tetap bisa dilakukan, dan akan menjadi mudah jika kita menjadi 'ahli'nya.
Contohnya saja blog ini.... sudah lama sekali tidak ada posting, tentu saja dengan segala BEJ (Blame excuse & Justify) yang seharusnya tidak perlu ada untuk menjadi penghalang.
Padahal yang namanya konsistensi itu SANGAT PERLU. Temans tentu tahu dengan peribahasa: Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.
Ya, tidak perlu hal yang sangat besar untuk membuat sesuatu menjadi besar. yang dibutuhkan adalah konsistensi.
Lihatlah orang membangun rumah. Jika kita menunggunya setiap saat kita akan merasakan bahwa kemajuan pembuatan rumah tersebut begitu lambat. namuan, coba tengoklah seminggu atau sebulan kemudian. Wow... progress/kemajuan akan terlihat disana. Akhirnya rumah itu jadi karena ada konsistensi pembuatan rumah disana.
Nah, sekarang lagi putar2 cara bagaimana supaya beberapa aktivitas penting bisa dijalankan dengan konsisten, jadi harus masuk rutinitas. kalau sudah masuk rutinitas, kalau kita tidak mengerjakannya seolah-olah kita merasakan ada sesustu yang hilang dari diri kita. jadi, tidak ada lagi kata lupa.
OK.... mudah-mudahan saya bisa konsisten. Amin.
Konsistensi
Kurang bersyukurkah? (Jawaban artikel)
Temans,
Jika artikel saya yang berjudul "Kurang Bersyukurkah?" tidak dilanjutkan, nanti isinya bisa kontradiksi dengan posting saya yang lain. Makanya, lebih baik saya lanjutkan saja biar lebih jelas.
Alhamdulillah, hampir semua cita-cita saya sewaktu sekolah dulu sudah kesampaian. Tapi menurut saya belum.
Kenapa?
Pertama, sebaiknya cita-cita kita perbaiki terus. Kita bisa meningkatkan kualitas hidup kita. Bagi kita sendiri, orang-orang sekitar kita, maupun orang lain. Kalau saya berhenti sampai di sini, berarti saya egois. Karena masih banyak yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Ya, untuk orang lain.
Kedua, dengan selalu merevisi cita-cita, kita akan selalu tertantang dan hidup semakin bergairah dan bermakna. Dengan catatan, menjalankannya dengan ikhlas dan tidak ngoyo (memaksakan diri) alias nothing to lose.
Jadi, sesuai alasan pertama tadi, berarti cita-cita saya untuk saya sendiri, sebagian sudah tercapai, namun masih banyak yang belum tercapai untuk orang lain. (Padahal untuk diri sendiri juga sebenarnya masih kurang, terutama masalah agama…...)
Jadi…
Jadilah tumbuhan yang tinggi dan rimbun, hingga berguna bagi orang yang berteduh, menyisakan tempat bagi hewan untuk bersarang atau sekedar hinggap. Bahkan ketika tumbuhan itu sudah mati, kayunya pun masih berguna.
KISAH KUPU-KUPU
Temans, ada hikmah menarik jika kita mencermati perkembangan ulat dari telur sampai menjadi kupu-kupu. Tentu saja termasuk hikmah kepompong di dalamnya yang sudah sering kita dengar.
Pertama kali ada di dunia, mereka terlahir sebagai telur. Ini adalah makhluk yang tidak (atau lebih tepatnya "belum") bernyawa. Ia hanya terdiam, namun beberapa saat kemudian ia menetas menjadi ulat. Konon ulat adalah musuh manusia dengan keserakahannya melahap dedaunan. Namun jika kita melihat dari kacamata ulat, tentu kita akan berkata lain. Ia adalah binatang yang tekun. Dengan jeda waktu yang ada ia harus menggemukkan badan sehingga punya cadangan makanan untuk fase berikutnya. Hingga saatnya tiba, ia harus bertapa dengan bekal makanan tadi menjadi kepompong. Di bandingkan lama hidupnya, fase kepompong menempati waktu yang lumayan lama. Hampir sama dengan waktu hidupnya menjadi ulat.
Saat menjadi kepompong ia benar-benar berada dalam diam, dan dalam waktu bersamaan tubuhnya berubah perlahan-lahan. Saat waktunya tiba, ia akan keluar menjadi kupu-kupu. Saat keluar pun membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, mungkin kita akan merasa kasihan melihatnya. Jangan dibantu ia keluar dari kepompong kecuali jika Anda menginginkan ia tidak bisa terbang dan mempunyai sayap yang berkerut. Ya benar. Tidak bisa terbang. Karena saat ia keluar dari kepompong melalui lubang yang sempit maka saat bersamaan ia juga menegakkan sayapnya.
Setelah keluar dari kepompong, ia menjadi kupu-kupu yang mempesona. Kita pun lupa bahwa dulu kita pernah merasa jijik dan membencinya saat ia berupa ulat.
Teman, ada yang menarik dari fase kupu-kupu ini: dia berada dalam keadaan dorman (diam) dalam bentuk telur dan kepompong. Dia pun berbentuk makhluk yang aktif dalam 2 fase: ulat dan kupu-kupu, suatu makhluk yang kontras.
Mana yang paling menarik dari keempatnya? Tentu jawabannya kupu-kupu, selain indah, dia juga berguna bagi bunga untuk membantu penyerbukan. Jika saat fase ulat adalah binatang yang 'rakus', maka fase kupu-kupu adalah saat ia berguna bagi makhluk lainnya.
Jika dihubungkan dengan kehidupan manusia, hampir mirip. Walaupun manusia hakikatnya hanya berujud sama, kecuali tambah besar saja…
Sebelumnya, kita hanyalah makhluk yang tidak bernyawa sampai umur 3 bulan 10 hari. Saat usia cukup di kandungan, kemudian kita terlahir ke dunia. Kemudian, menjadi Seorang anak manusia yang 'rakus' melahap apa saja. Tapi sayang kebanyakan manusia hanya berhenti sampai di sini saja fasenya. Ia tidak belajar dari kehidupan. Ia merasa hidup ini susah, sehingga ia berhenti sampai di sini. Makanya, bener saja apa yang ia katakan: "hidupnya susah".
Fase ini adalah fase yang harus dilalui bagi setiap insan, saat untuk bekerja keras, belajar dan terus belajar untuk menggapai hidup yang lebih baik. Dari sini kelak akan terlihat macam kupu-kupu apa jadinya?
Sebagian lagi, belajar dari kehidupan, kemudian introspeksi diri atau mengambil hikmah dari kehidupannya dan sekelilingnya dengan merenungkannya, kemudian ia menjadi pribadi yang lebih baik dengan menahan diri terhadap nafsu, berbuat baik terhadap sesama, termasuk belajar dari kesalahan yang ada.
Jika setiap insan mampu melewati fase ini, ia akan terlahir kembali sebagai manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Manusia yang kehadirannya dirindukan oleh makhluk lain, baik manusia maupun hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Akhirnya ada sedikit ungkapan untuk pelajaran kita:
Jika kita merenung terdiam sebelum bekerja keras, berarti kita masih menjadi telur. Esok kita akan terbangun menjadi ulat: kita masih harus bekerja keras.
Jika kita merenung terdiam setelah bekerja keras, semoga saja saat ini kita sedang menjadi kepompong, semoga esok kita menjadi kupu-kupu yang berguna yang kehadirannya dinanti-nanti makhluk yang lain
Jika "terdiam", Terdiam di mana kita saat ini? Ulat atau kepompong?
Semoga kita menjadi yang baik. Dan menjadi lebih baik
Ada Gula Ada Semut
Tentu pepatah ini tidak asing lagi buat kita semua. Artinya kurang lebih demikian, bahwa jika ada orang yang mempunyai sesuatu (kelebihan), maka orang akan berbondong-bondong menemuinya. Jika ada orang yang banyak harta maka orang-orang akan datang untuk harta tersebut. Jika ada orang alim, maka berbondong-bondong orang datang meminta ilmu.
Nah, dengan berbekal peribahasa tersebut, sebenernya bisa juga digunakan sebagai ukuran kelebihan dan kemampuan kita dibandingkan orang lain. Pertanyaannya mudah: Siapa saja orang-orang yang berusaha menghubungi kita? Apa motif mereka?
Jika sudah ketemu jawaban pertanyaan tadi, maka terjawab sudah kelebihan kita.
Jadi, apa kelebihan Anda saat ini?
Resensi Buku Quantum Ikhlas, The Power of Positive Feeling
Silahkan dibaca. Resensi ini saya dapatkan dari web site (ditampilakn juga oleh Jawa Pos, 17 Juni 2007).
JUDUL BUKU Quantum Ikhlas, The Power of Positive Feeling
PENULIS Erbe Sentanu
PENERBIT Elex Media Komputindo, Jakarta
CETAKAN I, 2007
TEBAL xxxvii + 236 Halaman
Everything is within you Ask all from yourself…
Jalaluddin Rumi
APAKAH sebenarnya "sukses" itu? Apakah sebenarnya tujuan hidup yang kita cari? Patutdiingat sukses bukanlah karir dan finansial semata, tetapi juga termasuk keluarga yang harmonis, persahabatan, kesehatan, tingkat intelegensi, rasional, emosional, maupun kecerdasan spiritual. Banyak cara untuk sukses dan bahagia. Dan, seperti banyak orang, kita juga senantiasa bekerja keras berusaha berubah agar bisa menikmati hidup yang lebih menyenangkan.
Mengupas tuntas intisari Teknologi Quantum Ikhlas; buku berjudul Quantum Ikhlas ini berupaya mengomunikasikan pesan inti bagaimana manusia dapat memperoleh kebahagiaan hakiki dan mencapai sukses hidup; pekerjaan, materi, dan relasi yang menyenangkan, secara ikhlas.
Dalam buku ini, Erbe Sentanu mengedepankan tujuan utama filosofi quantum ikhlas; yaitu untuk mengembalikan fitrah manusia sebagai makhluk yang sempurna. Fitrah manusia berada di zona ikhlas. Manusia yang sempurna adalah manusia yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya -kecerdasan fisik (PQ), kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).
Menurut Erbe, ikhlas dalam hati manusia mewujud melalui perasaan-perasaan damai, sabar, mudah bersyukur, tawakal, dan menyerahkan urusan pada Tuhan ketika kita sudah berusaha maksimal. Dengan kata lain, tidak memaksakan kehidupan untuk selalu berjalan sesuai kehendak kita.
Buku ini merupakan buku pertama dari serial buku yang membahas tuntas Teknologi Quantum Ikhlas; hasil pemikiran dari proses belajar dan pengalaman pribadi penulisnya selama lebih dari 20 tahun. Buku ini disebut para pakar spiritual manca negara sebagai buku yang mengajarkan kunci mempraktikkan prinsip-prinsip kesuksesan hidup dan filosofi the Law of Attraction dari film The Secret. Menurut mereka, Quantum Ikhlas telah menggabungkan prinsip the Law of Attraction dengan nilainilai luhur ketuhanan khas bangsa Indonesia untuk meraih sukses lahir batin, dunia akhirat.
"Saya sudah menyaksikan kedahsyatan film The Secret sejak tahun lalu, yang saya tidak sangka adalah kunci rahasianya ternyata justru saya dapatkan di Katahati Institute. Sekarang saya ikut membantu menyebarkan teknologi Quantum Ikhlas ke negara-negara lain di Asia," komentar G. Kuna Sekaran, Life Transformation Coach, Singapore.
Selama ini banyak buku motivasi dan strategi sukses lainnya lebih mengutamakan kemampuan intelegensia dari logika berpikir semata. Mengedepankan peran dan manfaat positive thinking. Jarang dan belum banyak yang mengulas pentingnya positive feeling (perasaan positif) yang membarengi positive thinking dalam proses mencapai tujuan, seperti yang diajarkan buku ini.
Sayang, bagi pembaca pemula, mungkin beberapa bagian buku ini dirasa agak "berat". Khususnya dari segi istilah-istilah bahasa teknis yang digunakan penulis ketika menjabarkan konsep-konsep abstrak fisika kuantum, energi positif feeling yang mendasari the Law of Attraction ke bahasa sehari-hari yang lebih membumi.
Namun, di luar itu, buku ini relatif mudah untuk diserap dan dipahami. Penulis berusaha mengimbangi "berat"-nya bahasa filosof dengan memasukkan sebanyak mungkin analogi. Salah satunya, mengibaratkan otak pikiran dan perasaan manusia sebagai komputer yang memiliki hardware dan software sebagai mesin sistem navigasi hidup. Sistem yang harus senantiasa di-upgrade, dibersihkan dari virus-virus pikiran dan perasaan bawah sadar negatif yang membuat manusia merasa takut, cemas, ragu, sulit memaafkan, dan sebagainya.
Inti pesan buku ini sarat makna, inspiratif, dan praktis. Berusaha membuka hati siapa saja yang ingin mengubah kehidupannya dengan mengubah dirinya sendiri. Harapan sang penulis, quantum ikhlas adalah jawaban dan obat manjur bagi penyakit dan tsunami hati yang kini banyak melanda masyarakat Indonesia. Sebagai manusia, kita diajak untuk menjadi miracle maker, pencipta keajaiban.
"Teknologi quantum ikhlas tidak semata membantu Anda memiliki harta yang Anda inginkan. Ia juga tidak sekadar memudahkan Anda mengerjakan hal-hal yang Anda inginkan. Teknologi quantum ikhlas akan membantu Anda menjadi orang yang berhak memiliki dan mengerjakan apa yang Anda inginkan, dengan lebih mudah," tulis Erbe Sentanu. (*)
ANNISA WARDANI Penggemar buku, pendiri Lembaga Pelatihan Pemasaran UKM "Customer Ladder" Surabaya
Ditulis oleh TB Yasmin
Note:
Sayang saya tidak bisa ikut seminarnya. Padahal ilmu seperti inilah yang sedang saya cari.
Maklum, 7 Juli adalah masa liburan sekolah. Tiket mahal (fixation day).
Mudah-mudahan TDA-ers mendapat manfaatnya dan semakin semangat untuk ikut seminarnya.
oh ya, silahkan juga buka di www.katahati.com
