Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts

Pidato Steve Job Sang Pendiri Apple & Pixar di Acara Wisuda Stanford University






Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Sayatidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda.

Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidupsaya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

1. Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.

Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan"dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?Mereka menjawab: "Tentu saja."

Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan sayasampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya yang hanya pegawai rendahan habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.

Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.

Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajarjenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya.

Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentukdan proporsinya.
Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.
Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat kedepan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung kebelakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya.
Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

2. Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami -Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depandan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya. saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley.

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.

Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda.

Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidupxAnda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apayang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya.

Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

3. Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar."

Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada.Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untukmenghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.

Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu keperut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekatsaya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surgapun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda.

Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengarkata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole EarthCatalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan dipagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan PernahPuas. Selalu Merasa Bodoh).

Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

(Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggidi Australia)

BONUS :When you take a risk and step out of the norm, you run the risk andsometimes you fail. But you only fail if you give up.(J Peterman)

artikel diambil dari forward di milist kampung-ugm

Jadilah yang Terbaik (baca: The Special People)


Dulu, sewaktu kuliah (dan belum bekerja tentunya) saya kaget ketika harus mengganti satu buah baut sepeda motor berharga dua ribu rupiah. Kenapa? Karena biasanya saya membeli baut untuk sepeda paling-paling seharga seratus atau dua ratus rupiah. Ternyata kemudian juga saya ketahui banyak barang lain yang harganya juga berbeda jauh walaupun fungsinya sama. Belum lagi kalau misalnya baut tersebut untuk mobil. Harganya bisa melambung jauh lagi.


Kenapa harganya bisa berbeda? Yang jelas, tentunya kelas atau kualitasnya juga berbeda. Untuk mobil tentunya yang paling bagus, karena membutuhkan kualitas yang lebih tinggi untuk bisa menjalankan fungsi yang lebih berat. Berikutnya sepeda motor, baru untuk sepeda yang terendah.


Ini juga terjadi dalam hidup kita, atau contoh yang paling mudah pekerjaan. Sama-sama bekerja sebagai sekretaris,kalau berada di perusahaan yang berbeda akan mempunyai tuntutan kualitas yang berbeda yang tentu pada akhirnya juga berbeda gajinya. Bahkan, di perusahaan yang sama, sekretaris untuk pres Direktur tentunya akan mempunyai gaji yang paling tinggi dibandingkan dengan sekretaris2 yang lain. Demikian juga pekerjaan yang lain.


Nah pertanyaannya adalah: Anda ingin menjadi 'baut' yang seperti apa? Untuk sepeda, sepeda motor, atau bahkan untuk pesawat ruang angkasa? Semakin berkualitas maka 'harga' Anda akan semakin mahal.

Menjadi Pribadi Unggul (kompeten) - Resume Buku "The 7 habits of Highly Effective People"







Menabur Pikiran, menuai Tindakan; Menabur tindakan, menuai Kebiasaan; Menabur Kebiasaan, menuai Karakter; Menabur Karakter, menuai Nasib. Samuel Smiles



Dulu sewaktu mahasiswa saya pernah membaca buku karangan Stephen R Covey ini, namun terus terang susaha sekali memahaminya. Lebih mudah memahaminya setelah melihat VCD punya teman. Tapi waktu ikut trainingnya, jadi lebih paham lagi. Apalagi saat ini saya senang sekali belajar enterpreunership, managerial, dan pengembangan diri. Jadi, tentu saja mempunyai perspektif yang lebih luas jika dibandingkan dengan perspektif dulu ketika mahasiswa.





Inti dari buku ini cukup sederhana dan mudah dipahami yaitu kita akan berubah dari ketergantungan menuju Kemandirian (Kemenangan Individu dalam istilah Covey) dengan memperbaiki diri kita sebagai seorang individu, yaitu penguasaan diri dan disiplin diri. Namun, supaya menjadi individu yang kompeten (efektif) pada akhirnya kita harus bisa berkolaborasi dengan orang lain sehingga memunculkan adanya salingketergantungan dengan melakukan hubungan yang lebih mendalam dan jangka panjang, yang dalam tahap ini Covey memberikan istilah "Kemenangan Publik". Ya, kita tidak bisa hidup di dunia ini sendiri. Kita perlu berkolaborasi dengan orang lain. Dan kebiasaan kita ditutup dengan "Asahlah Gergaji" yang intinya "Continous improvement".



PRINSIP EFEKTIVITAS adalah hal utama yang harus dipegang dalam menjalankan The 7 Habits ini. Efektivitas adalah mendapatkan hasil yang baik hari ini (produksi) dengan cara yang memungkinkan kita untuk mendapatkan hasil yang terus-menerus (berkesinambungan). Nantinya, dalam menentukan apakah suatu tindakan/sikap akan efektif atau tidak akan didasarkan pada prinsip ini.





1. Menjadi Proaktif
Kebiasaan yang pertama diawali dari mindset atau pola pikir kita. Kita harus sadar sepenuhnya bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Orang yang efektif berprinsip bahwa hidup adalah pilihan, sehingga sadar bahwa keadaan saat ini adalah hasil dari pilihan-pilihan sendiri di masa lalu. Orang yang proaktif bersikap didasari pada prinsipnya (yaitu bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil), sedang orang yang reaktif berbuat sebagai hasil dari reaksi apa yang terjadi di luar dirinya.



Orang proaktif sadar bahwa dirinya adalah programmer untuk dirinya. Dia sendiri yang mengatur dirinya, bukan situasi diluar yang mengatur tindakannya.



Ada perbedaan yang mendasar antara orang proaktif dan reaktif (walaupun dua-duanya sama-sama aktif), yaitu bahwa setelah terjadi stimulus, orang reaktif akan berhenti sejenak untuk berfikir sebelum melakukan respon yang layak. Sedangkan orang yang reaktif akan langsung memberikan respon seketika setelah ada stimulus, tanpa adanya jeda untuk memilih atau berfikir.

Di saat jeda memilih tersebut, orang Proaktif akan melakukan STEP: Stop - Think - Evaluate - Proceed. Dan sah-sah saja jika Anda memiliki metoda lain dalam berfikir, misalnya BRAIN: Benefit-Risk-Altenative-Instinc-No respone.
Di dalam melihat suatu hal, orang yang proaktif akan mengajukan pertanyaan: HOW dan WHAT yaitu berusaha mencari solusi, sedangkan orang yang reaktif akan mengajukan pertanyaan WHY, WHEN, dan WHO.

2. Mulai dengan Tujuan Akhir

"Tolong beritahu saya, jalan mana yang harus saya ambil?" Kata Alice"

Hal itu tergantung kemana kamu kan pergi" Kata Kucing"

Saya tidak peduli akan ke mana saya....". Kata Alice"

Kalau begitu, tidak ada bedanya jalan manapun yang kamu ambil" kata Kucing

dari Petualangan Alice di Negeri Ajaib

Tujuan akhir, VISI, adalah sesuatu yang mendorong seseorang berbuat. Jika seseorang mempunyai cita-cita yang tinggi tentunya ia akan bekerja lebih keras dan tekun daripada orang yang mempunyai cita2 yang lebih rendah.

Orang yang efektif akan mempunyai cita-cita yang tinggi, dan cita-cita tersebut dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan dan menjalani hidupnya. Orang yang tidak efektif akan menjalani hidup tanpa tujuan, menjalani hidup apa adanya, mengikuti kemana arus akan membawanya.

Sebagai seorang insan, kita hidup dengan banyak peran. Sebagai individu yang bertanggung jawab kepada dairi sendiri, sebagai Ayah/Ibu, kepala keluarga, professional, atau pengusaha. Masing-masing peran tersebut menuntut kompetensi yang berbeda-beda, tentu saja akan mempunyai tujuan yang berbeda pula. Lalu, apa tujuan/keinginan kita untuk masing-masing peran tersebut? Apa yang ingin anak Anda katakan kepada Anda sebagai orang tua saat ulang tahun Anda yang terakhir? Anda yang tahu jawabannya.

3. Dahulukan yang Utama
First think First. Ya, jika kita tidak mempunyai prioritas, maka kita akan menjadi terlihat sibuk namun tidak menghasilkan apa-apa, karena semuanya dikerjakan. Orang yang efektif akan mendahulukan hal-hal yang penting, sedangkan orang yang tidak efektif akan mendahulukan hal-hal yang mendesak, sehingga akan senantiasa merasa dikejar2 waktu. Tentu saja ini akan menjadi beban mental (stress) jika terjadi berkepanjangan.
Selayaknya apa yang kita kerjakan didasarkan pada skala prioritas. Mana yang paling efektif dikerjakan dulu, baru berfikir efisiensi. Sudah tentu, pedoman untuk bisa memilih mana yang harus didahulukan adalah kita harus mempunyai tujuan akhir dahulu.

Orang yang efektif akan berusaha mengurangi pekerjaan yang urgent (penting & mendesak) dengan mengerjakan hal-hal yang penting namun tidak mendesak. Jadi, silahkan buat rencana mingguan Anda.

Jika kita mengerjakan tiga sikap ini secara konsisten, kita akan menjadi pribadi yang mandiri, efektif secara individu. Dengan menjadi pribadi yang mandiri, maka kita layak menjadi seorang individu yang layak dipercaya karena komitmen kita, atau dalam istilah Covey adalah mendapat Kemenangan Pribadi


Sikap berikutnya adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang efektif dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain:

4. Berfikir Menang-menang
Kebiasaan ini membawa kita kembali untuk melihat mindset kita. Bagaimana kita bisa senantiasa berfikir menang-menang dalam berhubungan dengan orang lain. Untuk bisa berhubungan menang menang, inisiatif bisa datang dari salah satu atau kedua orang yang berhubungan. Untuk bisa melakukan tindakan ini, kita tidak hanya membutuhkan tenggang rasa yang tinggi, tapi juga keberanian yang tinggi dari diri kita.
Untuk bisa melakukan sikap ini, kita harus sadar bahwa apa yang ada di dunia ini melimpah bagi setiap orang dan berlimpah untuk dibagi. Jadi, selama kita merasa bahwa sesuatu jumlahnya terbatas, maka kita akan sulit berinisiatif melakukan kebiasaan menang-menang.
Sebagai prinsip dari sikap ini adalah bahwa hubungan jangka panjang yang efektif membutuhkan saling menghargai dan manfaat bersama.


5. Berusaha Memahami Dulu Baru Minta Dipahami
Dalam berhubungan dengan orang lain, pasti kita berkomunikasi dengannya. Nah, supaya komunikasi kita menjadi lebih efektif biasakanlah berkomunikasi dengan empati, kelihatannya akan memakan waktu yang lama, namun sebetulnya akan lebih efektif daripada kita berkomunikasi dengan cara lain, adu argumen misalnya.

Paradigma orang yang efektif adalah bahwa ia mendengarkan untuk memahami, sedangkan orang yang tidak efektif mendengarkan untuk menjawab.

6. Sinergi
Akhirnya setelah kita bisa menjadi seorang individu yang mandiri (karena efektif secara individu), dan kita bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain dengan baik dengan berfikir menang-menang dan berkomunikasi dengan empati, kita bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan kita dan orang lain.
Orang yang efektif berfikir bahwa dengan bersama-sama akan mencapai tujuan yang lebih baik, sedangkan orang yang tidak efektif akan memaksa orang lain untuk mengikuti caranya, atau dengan kompromi.

Akhirnya, dengan tambahan tiga sikap ini (sikap 4-5-6), kita akan menjadi seorang individu yang dipercaya oleh orang lain karena kita bisa mengambil hati orang lain.

Dan agar kita menjadi individu yang efektif, ditutup denga kebiasaan terakhir:
7. Asahlah Gergaji
Inti dari kebiasaan yang terakhir adalah kita senantiasa mengembangkan kemampuan kita dari segi Fisik, Mental/Pikiran, Sosial/Emosional, dan Spiritual.
  • Fisik: Olahraga, makan, dan istirahat seimbang dan manajemen stress yang baik.
  • Mental: Membaca, menulis, belajar, dan meneliti.
  • Sosial/Emosional: Membangun hubungan yang baik dengan orang lain, menjaga EQ kita.
  • Spiritual: melayani,meditasi, berdoa, ibadah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Silahkan membaca buku The 7 Habits dari Stephen R Covey supaya lebih jelas, bisa juga dengan membaca slide yang bisa didownload gratis dari SINI.

Hanyalah Segelas Air !


Berapa berat segelas air?





Itulah pertanyaan Stephen R Covey di dalam salah satu seminarnya. Tentunya kita akan menjawab 200 gram ditambah berat gelas….



Jawaban tersebut benar, namun masih kurang tepat. Bahwa beratsegelas air adalah tergantung berapa lama kita memegangnya. Jika kita memegang gelas tersebut sebentar, tentu akan ringan. Coba kita pegang segelas air dalam waktu yang lama. Katakanlah 15 menit saja, makin lama makin berat juga bukan?



Itulah perumpamaan hubungan antara stress (ketegangan) dan masalah / tugas kita sehari-hari. Kita seringkali menganggap masalah kecil tidak berarti sehingga kita mengabaikannya, namun karena lama kita abaikan, maka akhirnya masalah tersebut menjadi beban yang makin berat di kepala kita…..



Efek berikutnya, karena kita sudah tertekan (stress) dengan masalah-masalah kecil, tentunya kita akan kesulitan menyelesaikan masalah-masalah lain yang lebih besar. Dengan kata lain kompetensi yang dimiliki menurun.



Jadi, jangan remehkan masalah-masalah kecil. Segera selesaikan selagi bias. Jangan sampai masalah kecil menjadi besar, dalam pepatah jawa dikatakan “kriwikan dadi grojogan” cucuran air kecil menjadi airterjun.



Stress juga berhubungan dengan urgensi. Suatu hal dianggap sepele jika jeda waktu yangtersedia masih panjang, namun akan menjadi genting jika tenggat wakt yang tersedia sudah terbatas.

KISAH KUPU-KUPU


Temans, ada hikmah menarik jika kita mencermati perkembangan ulat dari telur sampai menjadi kupu-kupu. Tentu saja termasuk hikmah kepompong di dalamnya yang sudah sering kita dengar.


Pertama kali ada di dunia, mereka terlahir sebagai telur. Ini adalah makhluk yang tidak (atau lebih tepatnya "belum") bernyawa. Ia hanya terdiam, namun beberapa saat kemudian ia menetas menjadi ulat. Konon ulat adalah musuh manusia dengan keserakahannya melahap dedaunan. Namun jika kita melihat dari kacamata ulat, tentu kita akan berkata lain. Ia adalah binatang yang tekun. Dengan jeda waktu yang ada ia harus menggemukkan badan sehingga punya cadangan makanan untuk fase berikutnya. Hingga saatnya tiba, ia harus bertapa dengan bekal makanan tadi menjadi kepompong. Di bandingkan lama hidupnya, fase kepompong menempati waktu yang lumayan lama. Hampir sama dengan waktu hidupnya menjadi ulat.


Saat menjadi kepompong ia benar-benar berada dalam diam, dan dalam waktu bersamaan tubuhnya berubah perlahan-lahan. Saat waktunya tiba, ia akan keluar menjadi kupu-kupu. Saat keluar pun membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, mungkin kita akan merasa kasihan melihatnya. Jangan dibantu ia keluar dari kepompong kecuali jika Anda menginginkan ia tidak bisa terbang dan mempunyai sayap yang berkerut. Ya benar. Tidak bisa terbang. Karena saat ia keluar dari kepompong melalui lubang yang sempit maka saat bersamaan ia juga menegakkan sayapnya.


Setelah keluar dari kepompong, ia menjadi kupu-kupu yang mempesona. Kita pun lupa bahwa dulu kita pernah merasa jijik dan membencinya saat ia berupa ulat.


Teman, ada yang menarik dari fase kupu-kupu ini: dia berada dalam keadaan dorman (diam) dalam bentuk telur dan kepompong. Dia pun berbentuk makhluk yang aktif dalam 2 fase: ulat dan kupu-kupu, suatu makhluk yang kontras.


Mana yang paling menarik dari keempatnya? Tentu jawabannya kupu-kupu, selain indah, dia juga berguna bagi bunga untuk membantu penyerbukan. Jika saat fase ulat adalah binatang yang 'rakus', maka fase kupu-kupu adalah saat ia berguna bagi makhluk lainnya.


Jika dihubungkan dengan kehidupan manusia, hampir mirip. Walaupun manusia hakikatnya hanya berujud sama, kecuali tambah besar saja…


Sebelumnya, kita hanyalah makhluk yang tidak bernyawa sampai umur 3 bulan 10 hari. Saat usia cukup di kandungan, kemudian kita terlahir ke dunia. Kemudian, menjadi Seorang anak manusia yang 'rakus' melahap apa saja. Tapi sayang kebanyakan manusia hanya berhenti sampai di sini saja fasenya. Ia tidak belajar dari kehidupan. Ia merasa hidup ini susah, sehingga ia berhenti sampai di sini. Makanya, bener saja apa yang ia katakan: "hidupnya susah".


Fase ini adalah fase yang harus dilalui bagi setiap insan, saat untuk bekerja keras, belajar dan terus belajar untuk menggapai hidup yang lebih baik. Dari sini kelak akan terlihat macam kupu-kupu apa jadinya?


Sebagian lagi, belajar dari kehidupan, kemudian introspeksi diri atau mengambil hikmah dari kehidupannya dan sekelilingnya dengan merenungkannya, kemudian ia menjadi pribadi yang lebih baik dengan menahan diri terhadap nafsu, berbuat baik terhadap sesama, termasuk belajar dari kesalahan yang ada.


Jika setiap insan mampu melewati fase ini, ia akan terlahir kembali sebagai manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Manusia yang kehadirannya dirindukan oleh makhluk lain, baik manusia maupun hewan dan tumbuh-tumbuhan.


Akhirnya ada sedikit ungkapan untuk pelajaran kita:
Jika kita merenung terdiam sebelum bekerja keras, berarti kita masih menjadi telur. Esok kita akan terbangun menjadi ulat: kita masih harus bekerja keras.


Jika kita merenung terdiam setelah bekerja keras, semoga saja saat ini kita sedang menjadi kepompong, semoga esok kita menjadi kupu-kupu yang berguna yang kehadirannya dinanti-nanti makhluk yang lain


Jika "terdiam", Terdiam di mana kita saat ini? Ulat atau kepompong?


Semoga kita menjadi yang baik. Dan menjadi lebih baik